Kembali ke Ceritaku
Ceritaku4 November 2026

AKU INDONESIA: Mencintai Tradisi, Bersahabat dengan Teknologi, dan Tetap Mempunyai Jati Diri

AKU INDONESIA: Mencintai Tradisi, Bersahabat dengan Teknologi, dan Tetap Mempunyai Jati Diri

4 views· 0 tanggapan
AKU INDONESIA: Mencintai Tradisi, Bersahabat dengan Teknologi, dan Tetap Mempunyai Jati Diri

AKU INDONESIA: Mencintai Tradisi, Bersahabat dengan Teknologi, dan Tetap Mempunyai Jati Diri

Oleh: Rani Rabiussani
Guru Bahasa Sunda SMKN 13 Bandung

Pernahkah kalian ditanya, apa keunikan dan hal menarik yang ada dalam diri kalian?

Pertanyaan sederhana, tetapi ternyata tidak selalu mudah dijawab. Setidaknya, itulah yang saya rasakan. Ketika diminta menceritakan keunikan diri, saya justru menemukan satu jawaban yang mungkin terdengar sederhana: Aku Indonesia.

Ya, aku Indonesia!

Negeri yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Negeri dengan ribuan pulau, beragam bahasa, adat istiadat, kesenian, pakaian tradisional, kuliner, dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Keberagaman itulah yang menjadikan Indonesia begitu istimewa.

Di antara begitu banyak kekayaan budaya Nusantara, saya adalah salah satu bagian kecil dari keunikan itu. Saya orang Sunda, tumbuh dengan bahasa, tradisi, dan nilai-nilai budaya Sunda yang menjadi bagian dari identitas diri. Bagi saya, mengenal dan mencintai budaya sendiri bukan sekadar kegemaran, melainkan bentuk kebanggaan terhadap jati diri.

Tradisi Bukan Sesuatu yang Ketinggalan Zaman

Di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, terutama ketika teknologi digital, kecerdasan buatan, dan berbagai inovasi hadir dalam kehidupan sehari-hari, mungkin ada yang menganggap ketertarikan terhadap tradisi sebagai sesuatu yang kuno.

Ketika anak muda sibuk mengikuti tren terbaru, saya justru masih menikmati cerita wayang, mengenal kesenian tradisional, mempelajari ungkapan-ungkapan Sunda, menikmati tembang, hingga mencoba memahami filosofi kehidupan yang diwariskan para karuhun.

Apakah itu berarti saya tidak mengikuti perkembangan zaman?

Tentu tidak!

Saya percaya bahwa kemajuan teknologi tidak harus membuat kita meninggalkan akar budaya. Justru, teknologi seharusnya menjadi jembatan untuk memperkenalkan tradisi kepada dunia yang lebih luas.

Bayangkan jika cerita wayang dikemas menjadi animasi digital, aksara Sunda diperkenalkan melalui aplikasi, kesenian tradisional dipromosikan melalui media sosial, atau filosofi kehidupan masyarakat Sunda disampaikan melalui konten kreatif yang digemari generasi muda.

Bukankah itu menarik?

Teknologi boleh berkembang setinggi langit, tetapi identitas budaya jangan sampai hilang dari bumi tempat kita berpijak.

Bagi saya, menjadi modern bukan berarti harus melupakan tradisi. Menjadi generasi masa kini bukan berarti harus merasa malu terhadap warisan leluhur.

Kita boleh menguasai teknologi paling mutakhir, tetapi jangan sampai kehilangan kemampuan untuk menghargai budaya sendiri.

Urang Sunda, Bagian dari Indonesia

Sebagai orang Sunda, saya memiliki kebanggaan tersendiri terhadap kekayaan budaya yang diwariskan oleh para leluhur.

Bahasa Sunda bukan sekadar alat komunikasi. Di dalamnya terdapat tata krama, kesantunan, penghormatan, dan filosofi kehidupan.

Ada ungkapan someah hade ka semah yang mengajarkan keramahan kepada siapa pun. Ada filosofi silih asah, silih asih, silih asuh yang mengajarkan kita untuk saling mencerdaskan, menyayangi, dan membimbing.

Ada pula nilai-nilai kehidupan yang mengajarkan manusia agar senantiasa menjaga hubungan baik dengan sesama, alam, dan Sang Pencipta.

Nilai-nilai tersebut sesungguhnya tidak hanya relevan bagi masyarakat Sunda, tetapi juga menjadi bekal kehidupan bagi siapa pun, termasuk generasi muda Indonesia.

Saya ingin murid-murid saya memahami bahwa menjadi orang Sunda tidak membuat kita terpisah dari Indonesia. Justru, dengan mencintai budaya Sunda, kita turut menjaga salah satu kekayaan budaya bangsa.

Urang Sunda, Budaya Sunda, bagian tina Indonesia.

Kita tidak harus menjadi sama untuk bisa bersatu. Keberagamanlah yang membuat Indonesia memiliki warna.

Menjadi Guru: Mengabdi dengan Hati, Bergerak Mengikuti Zaman

Menjadi guru Bahasa Sunda di SMKN 13 Bandung memberikan ruang bagi saya untuk terus belajar dan berbagi.

Saya tidak ingin murid-murid hanya mengenal Bahasa Sunda sebagai mata pelajaran yang harus dipelajari demi mendapatkan nilai di rapor. Lebih dari itu, saya ingin mereka menemukan makna bahwa bahasa dan budaya adalah bagian dari identitas yang patut dijaga.

Saya ingin mereka berani menggunakan bahasa daerah tanpa merasa rendah diri, mengenal tradisi tanpa merasa kuno, dan menguasai teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.

Sebagai seorang guru, saya pun harus terus beradaptasi. Dunia pendidikan berubah, karakteristik peserta didik berkembang, dan teknologi menghadirkan banyak peluang baru dalam pembelajaran.

Karena itu, saya percaya bahwa seorang guru harus mampu menjaga keseimbangan: mengabdi dengan hati, bekerja sesuai nurani, menjaga tradisi, sekaligus siap mengikuti inovasi teknologi.

Sebab pendidikan bukan hanya tentang mempersiapkan murid agar mampu menghadapi masa depan, tetapi juga membantu mereka memahami siapa dirinya, dari mana asalnya, dan nilai-nilai apa yang harus tetap dipegang dalam perjalanan hidupnya.

Jangan Kehilangan Akar Ketika Sedang Terbang Tinggi

Untuk kalian, anak-anak muda yang sedang tumbuh di tengah derasnya arus perubahan zaman, saya ingin menyampaikan satu hal.

Jangan pernah takut menjadi berbeda karena memiliki kecintaan terhadap budaya sendiri.

Tidak perlu malu menggunakan bahasa daerah. Tidak perlu merasa kurang keren ketika mengenakan pakaian tradisional. Tidak perlu menganggap kesenian leluhur sebagai sesuatu yang tidak relevan dengan kehidupan modern.

Kalian boleh menjadi programmer hebat, ahli kimia yang kompeten, teknisi profesional, pengusaha sukses, kreator digital, atau profesi apa pun yang kalian impikan. Kuasailah ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadilah generasi yang inovatif dan berdaya saing.

Namun, jangan lupa menjadi manusia yang memiliki akar budaya, karakter, dan jati diri.

Sebab setinggi apa pun seseorang terbang, ia tetap perlu mengetahui tempat ia berasal dan nilai-nilai yang menjadi pijakannya.

Pada akhirnya, keunikan diri bukan selalu tentang sesuatu yang luar biasa atau berbeda dari orang lain. Terkadang, keunikan itu justru hadir ketika kita mampu menerima, mencintai, dan merawat identitas yang melekat dalam diri kita.

Saya adalah Rani Rabiussani. Seorang guru Bahasa Sunda, bagian dari masyarakat Sunda, dan bagian dari Indonesia.

Saya ingin terus belajar mengikuti zaman tanpa kehilangan kecintaan terhadap tradisi.

Sebagai penutup, saya teringat sebuah petuah karuhun Sunda yang selalu relevan untuk kita renungkan:

“Sing bagja-waluya, tong ringrang ku paneka jaman, sing bisa ngigelan tur ngigelkeun jaman.”

Jadilah manusia yang bahagia dan sejahtera. Jangan merasa gelisah menghadapi berbagai perubahan zaman. Jadilah pribadi yang mampu mengikuti irama zaman sekaligus memberikan arah dan warna bagi perubahan itu sendiri.

Sebab menjadi manusia modern bukan berarti meninggalkan masa lalu, melainkan membawa nilai-nilai terbaik dari masa lalu untuk membangun masa depan.

Salam budaya!

Aku Indonesia. Urang Sunda. Reueus kana budaya sorangan, siap nyanghareupan kamajuan jaman!

Tanggapan (0)

Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama menulis.

Tulis Tanggapan

Tanggapan Anda akan ditinjau oleh guru sebelum tampil publik.